Perihal hari Sabat dan Minggu
Sering dikatakan bahwa ”Allah menetapkan Sabat di Eden” karena hubungan antara Sabat dan penciptaan dalam Keluaran 20:11.
Sekalipun berhentinya Allah bekerja pada hari ke tujuh (Kejadian 2:3) memberi pertanda untuk hukum mengenai Sabat di kemudian hari, tidak ada catatan Alkitab mengenai Sabat sebelum umat Israel meninggalkan Mesir.
Dalam Alkitab tidak ada indikasi bahwa memelihara hari Sabat dilakukan pada zaman Adam sampai Musa.
Firman Tuhan jelas bahwa memperingati Sabat adalah tanda khusus antara Allah dan Israel, tercatat sbb :
Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: “Beginilah kau katakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.” (Keluaran 19:3-5).
“Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal. Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.” (Keluaran 31:16-17).
Dalam Ulangan 5 Musa mengulangi sepuluh hukum kepada generasi yang baru dari bangsa Israel. Di sini, setelah memerintahkan untuk memperingati Sabat dalam ayat 12-14, Musa memberikan alasan mengapa Sabat diberikan kepada bangsa Israel, “Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (Ulangan 5:15).
Perhatikan kata itulah sebabnya. Maksud Allah dalam memberi Sabat kepada orang-orang Israel bukan supaya mereka dapat mengingat penciptaan, namun supaya mereka mengingat perbudakan mereka di Mesir dan pembebasan dari Tuhan.
Perhatikan peraturan untuk memelihara Sabat: Seseorang yang berada di bawah hukum Sabat tidak boleh meninggalkan rumahnya pada hari Sabat (Keluaran 16:29), tidak boleh menyalakan api (Keluaran 35:3), dan tidak boleh membuat orang lain bekerja (Ulangan 5:14). Orang yang melanggar Sabat dijatuhi hukuman mati (Keluaran 31:15; Bilangan 15:32-35).
Perjanjian Baru memperlihatkan empat hal penting kepada kita :
1). Setiap kali Tuhan Yesus menampakkan diri dalam tubuh kebangkitanNya dan harinya disebut, selalu adalah hari pertama dalam minggu itu (Matius 28:1, 9, 10; Markus 16:9; Lukas 24:1, 13, 15; Yohanes 20:19, 26).
2). Satu-satunya waktu di mana Sabat disebut dari Kisah Rasul sampai Wahyu, selalu adalah untuk maksud penginjilan kepada orang-orang Yahudi dan biasanya berlokasi di sinagog (Kisah Rasul 13-18).
Paulus menulis, “ Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat” (1 Korintus 9:20).
Paulus tidak pergi ke sinagog untuk bersekutu dan membangun orang-orang suci, tapi untuk memenangkan dan menyelamatkan yang terhilang.
3). Begitu Paulus mengatakan, “Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain” (Kisah 18:6) Sabat tidak pernah lagi disinggung. Dan
4). sebagai ganti menasihatkan ketaatan pada hari Sabat, bagian-bagian lain dari Pejanjian Baru justru mengindikasikan sebaliknya (termasuk satu kekecualiaan pada point ke 3 yang ditemukan dalam Kolose 2:16).
Memperhatikan lebih lanjut point ke 4 di atas akan memperlihatkan bahwa tidak ada kewajiban bagi orang-orang Kristen Perjanjian Baru untuk memelihara Sabat, dan juga memperlihatkan bahwa hari Minggu sebagai hari ”Sabat Kristen” tidaklah Alkitabiah.
Sebagaimana didiskusikan sebelumnya, hanya satu kali Sabat disebutkan setelah Paulus mulai menfokuskan diri pada orang-orang kafir, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kolose 2:16-17).
Sabat orang Yahudi telah dihapuskan di atas salib ketika Kristus “menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita” (Kolose 2:14).
Ide ini diulangi lebih dari satu kali dalam Perjanjian Baru: “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah” (Roma 14:5-6).
“Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun” (Galatia 4:9-10).
Ada beberapa yang mengklaim bahwa perintah dari Konstantinus pada A.D. 321 “mengubah” Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu.
Pada hari apakah gereja mula-mula berkumpul untuk beribadah ? Alkitab tidak pernah menyebut orang-orang percaya berkumpul untuk bersekutu atau beribadah pada hari Sabat (Sabtu) manapun.
Namun demikian, ada ayat-ayat yang dengan jelas menyebut hari pertama dalam minggu itu. Contohnya, Kisah Rasul 20:7 menjelaskan bahwa “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti” (Kisah 20:7).
Dalam 1 Korintus 16:2 Paulus menasihati orang-orang percaya di Korintus “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing—sesuai dengan apa yang kamu peroleh—menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah” (1 Korintus 16:2). Karena Paulus menyebut persembahan ini sebagai ”pelayanan” dalam 2 Korintus 9:12, pengumpulan ini pastilah berhubungan dengan ibadah Minggu dari jemaat Kristen.
Secara historis, Minggu, bukan Sabtu, adalah hari di mana biasanya orang-orang Kristen berkumpul di gereja, dan kebiasaan ini dapat ditelusuri kembali sampai abad pertama.
Hari Sabat diberikan kepada Israel, bukan kepada gereja.
Hari Sabat tetap adalah hari Sabtu, bukan hari Minggu dan tidak pernah diubah. Namun Sabat adalah bagian dari Hukum Taurat Perjanjian Lama, dan orang-orang Kristen bebas dari belenggu Hukum Taurat (Galatia 4:1-26; Roma 6:14).
Orang Kristen tidak perlu memelihara Sabat – baik itu Sabtu ataupun Minggu. Hari pertama dalam minggu itu, hari Minggu, hari Tuhan (Wahyu 1:10) memperingati ciptaan baru di mana Kristus adalah Pemimpin kita yang sudah bangkit.
Kita tidak perlu mengikuti Sabat dari Musa – beristirahat, namun kita sekarang bebas mengikuti Kristus yang bangkit – melayani.
Rasul Paulus mengatakan bahwa masing-masing orang Kristen harus memutuskan apakah akan beristirahat pada hari Sabat, “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri” (Roma 14:5)
Kita beribadah kepada Tuhan setiap hari, bukan hanya pada hari Sabtu atau Minggu.
==================================================================================
Apakah Alkitab mensyaratkan orang-orang Kristen memelihara Sabat ?
Jawaban:
Dalam Kolose 2:16-17 Rasul Paulus menyatakan, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”
Demikian pula Roma 14:5 mengatakan, “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.”
Ayat-ayat ini amat jelas bahwa bagi orang-orang Kristen memelihara Sabat adalah soal kebebasan rohani, bukanlah perintah Allah. Memelihara Sabat adalah hal yang Allah perintahkan untuk kita tidak saling menghakimi. Memelihara Sabat adalah soal yang setiap orang Kristen perlu yakini secara penuh dalam benak mereka masing-masing.
Dalam pasal-pasal permulaan kitab Kisah Para Rasul, orang-orng Kristen mula-mula didominasi oleh orang-orang Yahudi. Ketika orang-orang bukan Yahudi mulai menerima anugrah keselamatan melalui Yesus Kristus, orang-orang Kristen menghadapi dilema. Aspek mana dari Hukum Musa dan tradisi Yahudi yang harus diajarkan kepada orang-orang bukan Yahudi untuk mereka taati ?
Para rasul berkumpul dan membicarakan soal itu dalam persidangan Yerusalem (Kisah 15).
Keputusannya adalah, “Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah” (Kisah 15:19-20).
Memelihara Sabat bukanlah salah satu perintah yang menurut para Rasul perlu untuk diterapkan kepada orang-orang percaya yang bukan orang Yahudi.
Tidak dapat dibayangkan bahwa para Rasul akan lalai memasukkan memelihara Sabat kalau itu masih merupakan perintah Allah kepada orang-orang Kristen.
Kesalahan umum dalam perdebatan soal memelihara Sabat adalah konsep bahwa Sabat adalah hari untuk beribadah.
Kelompok-kelompok seperti Adven Hari Ketujuh percaya bahwa Allah menuntut ibadah gereja dilakukan pada hari Sabtu, hari Sabat. Ini bukanlah perintah Sabat.
Perintah Sabat adalah jangan bekerja pada hari Sabat (Keluaran 20:8-11). Tidak pernah ada dalam Alkitab hari Sabat diperintahkan sebagai hari untuk beribadah.
Ya, orang-orang Yahudi dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan zaman modern menggunakan hari Sabtu sebagai hari untuk beribadah, namun itu bukanlah hakekat dari perintah Sabat.
Dalam kitab Kisah Rasul, ketika suatu pertemuan dikatakan dilakukan pada hari Sabtu, pertemuan itu adalah orang-orang Yahudi, bukan Kristen.
Kapan orang-orang Kristen mula-mula berkumpul ?
Kisah 2:46-47 memberi jawabannya, “ Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Kalau ada hari di mana orang-orang Kristen berkumpul secara rutin, itu adalah hari pertama dalam minggu itu (hari Minggu kita), bukan pada hari Sabat (Kisah 20:7,1 Korintus 16:2).
Untuk menghormati kebangkitan Kristus pada hari Minggu, orang Kristen mula-mula memperingati hari Minggu, bukan sebagai “hari Sabat Kristen,” namun sebagai hari khusus untuk beribadah dan untuk memuliakan Yesus Kristus.
Apakah ada sesuatu yang salah dengan beribadah pada hari Sabtu, hari Sabat ? Sama sekali tidak !
Kita harus menyembah Allah setiap hari, bukan hanya pada hari Sabtu atau Minggu ! Banyak gereja sekarang ini memiliki kebaktian baik pada hari Sabtu maupun Minggu.
Di dalam Kristus ada kebebasan (Roma 8:21; 2 Korintus 3:17; Galatia 5:1). Apakah orang Kristen perlu memelihara hari Sabat, yaitu tidak bekerja pada hari Sabtu? Kalau seorang Kristen merasa dipanggil untuk melakukan itu, tentu saja (Roma 14:5).
Namun demikian, mereka yang memilih untuk memelihara Sabat tidak boleh menghakimi mereka yang tidak memelihara Sabat (Kolose 2:16).
Galatia 5:13-15 meringkaskan soal ini: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”
Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.”
==================================================================================
Mengapa penting beribadah / kebaktian ?
Jawab :
Alkitab memberi tahu kita bahwa kita perlu mengikuti kebaktian supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan bersama dengan orang-orang percaya lainnya dan untuk mempelajari Firman Tuhan bagi pertumbuhan rohani kita (Kisah Rasul 2:42; Ibrani 10:25).
Gereja adalah tempat di mana orang-orang percaya dapat mengasihi satu dengan yang lain (1 Yohanes 4:12), menasihati satu dengan yang lain (Ibrani 3:13), ”mendorong” satu dengan yang lain (Ibrani 10:24), melayani satu dengan yang lain (Galatia 5:13), mengajar satu dengan yang lain (Roma 15:14), saling menghormati (Roma 12:10), dan ramah serta penuh kasih mesra satu dengan yang lain (Efesus 4:32).
Ketika seseorang percaya kepada Yesus untuk keselamatannya, dia menjadi anggota Tubuh Kristus (1 Korintus 12:27).
Agar tubuh gereja dapat berfungsi sebagaimana mestinya, semua ”anggota tubuh” harus ada (1 Korintus 12:14-20).
Demikian pula seorang percaya tidak dapat mencapai kedewasaan penuh secara rohani tanpa bantuan dan dorongan dari orang-orang percaya lainnya (1 Korintus 12:21-26).
Oleh karena itu, mengkuti kebaktian, berpartisipasi dan bersekutu di gereja patutlah menjadi bagian dari kehidupan seorang percaya.
Mengikuti kebaktian setiap minggu bukanlah sesuatu yang merupakan keharusan bagi orang-orang percaya, namun seseorang yang telah percaya pada Kristus seharusnya memiliki keinginan untuk menyembah Allah, belajar FirmanNya, dan bersekutu dengan orang-orang percaya lainnya.
===============================================================================
Sumber :
http://www.gotquestions.org/Indonesia/

saudara-saudara ku yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Hari sabat, adalah suatu hari yang di khusukan kepada setiap manusia (tidak memandang agama), untuk berhenti dari segala aktifitas sehari-hari dan pada hari sabat itulah manusia hanya di khususkan untuk menyembah Allah. Hal ini ada di dalam 10 perintah Allah, atau hukum taurat, dimana hukum ini, wajib kita taati. Pada jaman nabi2, 10 perintah Allah ini, belum tergenapi. Beberapa nabi, yang terdapat di kitab suci, tidak dapat menggenapi ke sepuluh perintah Allah tersebut, dan pada saat itu, manusia benar-benar sudah jauh dari Allah, dan banyak sekali melakukan dosa. Baik pemuka agama maupun pemimpin pemerintahan pada saat itu, mereka tidak melakukan isi dari perjanjian lama yang tertulis di Alkitab.
Di dalam ayat di Alkitab YOH 3:16 dikatakan “KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI, SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAK-NYA YANG TUNGGAL, SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA TIDAK BINASA, MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL” dan dalam YOH 3:18 dikatakan “BARANG SIAPA PERCAYA KEPADA-NYA, IA TIDAK AKAN DI HUKUM; BARANG SIAPA TIDAK PERCAYA, IA TELAH BERADA DI BAWAH HUKUMAN, SEBAB IA TIDAK PERCAYA DALAM ANAK TUNGGAL ALLAH”. Di dalam ayat itu sudah jelas bahwa Yesus lahir dari dara Maria, dan datang ke dunia mempunyai misi untuk menyelamatkan dan mendekatkan umat manusia ke jalan Allah dan kita harus PERCAYA. Di dalam keberadaan Yesus di dunia, banyak sekali hal-hal yang dilakukan Nya sebagai cermin Allah kepada manusia. Sepuluh Perintah Allah telah di genapi, dan setiap hal yang dilakukannya baik adanya itulah Perjanjian Baru. Di dalam Perjajian Baru, segala sesuatu yang menjadi Hukum Taurat telah di genapi, dan telah di lakukan Yesus. Seperti menyembuhkan orang di hari sabat (yang di dalam perjanjian lama hari Sabat tidak boleh bekerja, sekarang Yesus menggenapinya dengan perbuatan baik pada hari Sabat yaitu menyembuhkan orang dari penyakitnya).
Hari Sabat yang sesungguhnya dalam perhitungan hari adalah hari Sabtu (sesuai kalender Yunani). Namun Yesus datang ke dunia ini untuk menyatakan karya Allah pada manusia, dimana harus ada satu hari yang di kususkan oleh manusia untuk menyembah Allah. Dan hari itulah mereka berkumpul dan bersama-sama beribadah. Jikalau kita sadari, beribadah tidak harus hari Sabat, tapi setiap kari, kapan pun, dimana pun, bagaimanpun itu tidak masalah… dan hari Minggu atau Sabtu, itu tidak merupakan suatu masalah bagi Allah untuk manusia beribadah. Yang di lihat Allah bukan harinya, meliankan Iman seseorang dalam melakuakn beribadah.
Hari Minggu atau Sabtu, adalah hari-hari dimana saat terpenting terjadi di dunia (Sabtu adalah hari ke tujuh *kalender Yunani*, dan di hari ke tujuh Allah beristirahat setelah apa yang di ciptakannya di bumi telah selesai, sedangkan hari Minggu adalah hari dimana Yesus Kristus bangkit mengalahkan maut dan kematian). Pada hari-hari itu adalah hari yang baik adanya, Di hari itulah umat kristiani melaksakan ibadah bersama-sama sebagai simbol untuk mengenang hari-hari itu.
Sesungguhnya Jum’at adalah hari yang tidak baik, karena dalam perhitungan hari bahwa di situlah Yesus di salibkan, dan jatuh ke dalam kerajaan maut (Kematian). Namun karena pada hari itu lah Yesus wafat, hari itu di sebut Jum’at Agung.. sedangkan Sabtu suci dan Minggu Paskah…
Jadi menurut saya, Ibadah itu bisa di lakukan di mana saja, dalam keadaan apapun, tanpa terikat oleh waktu.
pesan saya kepada teman-teman seiman percayalah kepada Yesus, Sebeb Yesus berkata “Tidak ada seorang pun masuk ke dalam surga tanpa melalui aku, karena aku (YESUS) ada di dalam Bapaku (ALLAH) dan Bapaku (ALLAH) ada di dalam aku”
Bacalah wahyu 14 tentang “Anak Domba dan pengikut-Nya yang ditebus-Nya”3
dan seperti kitab Wahyu 14 : 12 “Yang terpenting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus”.
Kitab Yudas ayat 18 “Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu ” Menjelang akhir jaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menurut hawa nafsu keafasikan mereka”.
dan jika kita kaji menurut waktu, kitab ini ada sebelum agama lainnya di bawah agama Kristen ada. dan ayat ini hanya ada dalam Alkitab…, jadi????
Semoga apa yang saya paparkan ini dapat menjadikan pedoman dalam kehidupan kita.
Tuhan memberkati kita, Amin…
@fajar
Terimakasih atas tulisannya saudaraku .
@admin
saya setuju sekali dengan penulisan saudara.
memang terkadan kita di bingungkan oleh pernyataan hari sabat.
tetapi itu hanya pendapat yang sepihak saja.
semoga anda terus di naungi roh kudus.
amin
@mazteral
Terimakasih appresiasinya dan doanya , GBU !
Banyak yg melihat perintah Tuhan utk memelihara hari sabat tsb secara lahiriah, kalo pendapat saya begini, hari Sabat adl hari perhentian dimana Tuhan berhenti pd hari ke-7 setelah sebelumnya bekerja selama 6 hari, artinya hari Sabat adl saat yg harus disediakan oleh kita setelah kita disibukkan dgn berbagai aktivitas, harus ada waktu khusus yg kita sediakan untuk kita bergaul lebih karib,merenung,memperbaiki hub.kita dgn Sang Maha Hidup.Itu sebetulnya makna hari Sabat, itu mesti jatuh pada hari ke-7,artinya jatuh disaat2 penghujung hari kita, sehingga kita bisa memulai permulaan waktu kita dgn kondisi jiwa yg lebih baik.Apa yg dikatakan oleh Paulus tdk bertentangan dgn perintah Tuhan,justru itu memberikan taladan yg sangat baik.Artinya setelah di penghujung hari kita sudah melakukan Sabat, maka di hari pertama kita diajarkan utk saling bersekutu dgn saudara2 kita, setelah sebelumnya hub.karib kita dgn Tuhan di pulihkan kembali, maka dihari pertama itu kita bersekutu utk saling menceritakan/sharing, saling menguatkan (digambarkan dgn saling memecah roti).Jadi makna hari Sabat sesungguhnya bukan soal hari Sabtu atau minggu.Hari Sabtu dan minggu digunakan utk lebih memperjelas makna Sabat, krn Sabtu=hari ke-7, minggu=hari pertama.RAHAYU!!!
@Syekh Siti Jenar,
Benar, hari ketujuh itu hari yang dikuduskan Tuhan dan umatnya ( pada Old Testament / Perjanjian Lama ) dianjurkan untuk beristirahat.
Kalau anda mempraktekkannya maka itu sangat baik, cobalah ….
Tapi kalaupun kita tidak sanggup mempraktekkannya, janganlah khawatir. Keselamatan manusia tergantung pada Jesus, maka sebaiknya kita pelajari dan ikuti ucapan Jesus.
Kalau ingin mempraktekkan bahwa hari minggu adalah hari bersekutu dan beribadah / memuji Tuhan, maka itu sangat baik, sebab demikianlah umat Kristen, sejak umat Kristen yang mula-mula.
Kalau ingin mempraktekkan keduanya, itu sangat baik.
Kesimpulannya , tidak ada yang harus diragukan, karena keselamatan itu tidak tergantung pada hari-hari, tapi tergantung pada Jesus Kristus, jadi sekali lagi sebaiknya kita pelajari dan ikuti sabdaNya.
Terimakasih saudaraku , salam !